Ruswandi, Kendalikan OPT Sejak Dini

Ruswandi, Kendalikan OPT Sejak Dini

Pria kelahiran Bukittinggi, 22 Desember 1958 ini menuturkan, 3 hal yang berpengaruh dalam penyebaran OPT, yaitu tanaman, lingkungan, dan OPT. “Aksi ketiga faktor ini menyebabkan peningkatan serangan pada padi,” imbuhnya. Kondisi ini terjadi misalnya saat menggunakan varietas yang kurang toleran penyakit, diikuti aplikasi pestisida kimiawi sintetis yang tidak sesuai anjuran, dan munculnya iklim ekstrim. WBC contohnya, terutama dipicu penggunaan varietas padi yang tidak toleran wereng. Di samping itu, penggunaan pestisida kimiawi sintetis yang tidak tepat dosis atau tidak tepat sasaran justru bisa menjadi vitamin bagi wereng. “Wereng adanya di batang, disemprot di atas ya nggak mati. Malah jadi vitamin buat dia (wereng),” ia menerangkan. Selain itu, terjadinya serangan hama dan penyakit juga karena tiga faktor. “Pertama, terlambat pengamatan. Kedua, terlambat memberikan rekomendasi. Dan ketiga, terlambat melakukan gerakan pengendalian,” imbuhnya sambil mewanti-wanti petani untuk tetap memperhatikan peluang merebaknya serangan wereng, kresek, dan blas di MT 2017 yang memiliki curah hujan cukup panjang ini.

Pencegahan dan Pengendalian OPT

Ruswandi menganjurkan pencegahan serangan OPT atau pre-emtive dengan cara mengelola agroekosistem sawah sehingga tidak sesuai untuk perkembangan OPT. Yaitu, melalui tanam serentak, penggunaan varietas toleran OPT, pengolahan tanah yang tepat, pemupukan berimbang, penggunaan tanaman refugia, penggunaan agens hayati, hingga aplikasi sistem tanam jajar legowo (jarwo). Hama tikus harus dikendalikan sejak pratanam secara gropyokan atau diburu secara masal dalam satu kawasan. Untuk mencegah kresek dan blas, dia menyarankan perlakuan benih dengan agens hayati Paenibacillus polymyxa atau perendaman air garam sebanyak 3 sdm/lt. Tungro dikendalikan dengan mengendalikan wereng hijau si vektor pembawa penyakit. Jika virus tungro su dah masuk ke tanaman, padi harus dieradikasi agar tidak menulari tanam lain. Pencegahan PBP melalui olah tanah yang baik secara mekanisasi dan aplikasi agens hayati Trichogramma sp.. “Telur PBP yang menempel di daun akan diparasitasi oleh Trichogramma sehingga gagal menetas,” imbuhnya.

Sedangkan serangan wereng ditekan dengan menanam varietas yang toleran, seperti Inpari dan Cihe rang, juga menerapkan sistem jarwo. Dengan jarwo, kata mantan Kasubdit Pengendalian OPT Direktorat Perlindungan Tanaman, Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian itu, sirkulasi udara menjadi lebih bagus dan kondisi iklim mikro ling kungan sawah menjadi lebih baik. Pada daerah berserangan OPT tinggi, ia meminta petani menanam tanam an refugia (tanaman ber bunga) di pema tang sawah di ikuti aplikasi agen s hayati. “Itu menjadi tem pat hidupnya musuh alami predator dan parasit hama. Jadi sebelum ada serangan, kita aplikasi agens ha yati. Diperkirakan populasi mening kat, agens hayati sudah bisa me ngontrol OPT di lapangan,” terang dia. Selanjutnya, upaya responsif berupa pengamatan dini di lapang. Jika populasi OPT mencapai di atas ambang batas ekonomi,harus segera dikendalikan dengan agens hayati atau pestisida kimiawi sintetis sesuai anjuran 6 tepat, yaitu tepat jenis, sasaran, dosis, waktu, cara, dan mutu.