Pakan Oke, Panen Lele Kece

Pakan Oke, Panen Lele Kece

Memelihara lele gampang-gampang susah. Salah pilih pakan, si kumis bisa tumbuh lambat dan FCR (feed conversion ratio-konversi pakan) bengkak. Kalau sudah begitu, margin budidaya pun semakin ketat.

Kriteria Berkualitas

Pakan berkualitas, ulas Edi Prijono, Aqua Sales Manager Cargill Feed and Nutrition Indonesia, harus bisa mendukung pertumbuhan lele yang optimal sehingga menguntungkan pembudidaya. “Pakan berkualitas akan mudah dicerna lele dan menghasilkan FCR yang lebih bagus dibanding pakan biasa atau tidak berkualitas,” ucapnya. Pakan berkualitas umumnya menghasilkan FCR berkisar 0,91,1. Beberapa produsen pakan menambahkan kandung an vitamin C untuk memperkuat daya tahan lele terhadap serangan penyakit. Edi juga mengingatkan, pembudidaya untuk mem perhatikan masa berlaku pakan yang berkisar 3 bulan sejak waktu produksi. “Ini sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang ditetapkan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta untuk menjaga kesegaran pakan sehingga terhindar dari perubahan bentuk atau penampilan fisik dan perubahan nutrisi,” urainya sambil menjelaskan ukuran pakan harus sesuai tahap budidaya si kumis.

Karena lele bersifat omnivora (pemakan segala) yang cenderung karnivora (pemakan daging), ucap Parsiholan E. Naiborhu, GM Formulator Aquafeed PT Feedmill Indonesia, lele pembesaran membutuhkan pakan berprotein tinggi, berkisar 28%-34% dengan bahan baku dari he wan. KKP menetapkan SNI protein pakan lele sebesar 25%. Sihol, sapaannya juga menekankan keseimbangan asam amino sebagai penyusun protein. Jika kandungan asam amino tidak lengkap, maka kesehatan, laju pertumbuhan, mortalitas, hingga FCR lele bisa bermasalah. Selain nutrisinya lengkap, menurut Arianto, Head of Unit PT Suri Tani Pemuka, pakan yang bagus juga harus berkualitas secara fisik. “Kualitas fisik itu penting. Pakan berkualitas tidak mencemari air, tidak mudah hancur, dan tidak ada leaching (pelarutan) dengan indikator keluar minyak dalam air,” paparnya. Biasanya pakan akan mempertahankan bentuknya dalam kolam lele selama satu jam. Tapi, imbuh Ari, “Terlalu kuat juga nggak bagus untuk daya serapnya ke usus. Pakan akan dimakan tapi dilepeh (keluarkan) lagi.”

Manfaat Pakan

Berkualitas Adi Sadewa, pembudidaya lele di Ke camatan Ngunut, Kabupa ten Tulungagung, Jawa Timur mengakui manfaat pakan berkualitas. Ia menggunakan pakan lele protein 30% berbahan baku protein hewani. “Protein di bawah 30% menye babkan lambat pertumbuhannya dan boros pakan, FCR bengkak,” ujar Adi. Kelambatan pertumbuhan mencapai 15 hari, sedangkan FCR bisa di atas 1. Sihol menerangkan, setiap selisih 2% protein menghasilkan perbedaan waktu budidaya sekitar 2 minggu. Dalam kondisi kualitas air yang bagus, pakan berprotein 30% akan mempercepat waktu budidaya 2 minggu daripada menggunakan pakan protein 28%. Namun, pakan protein tinggi tidak cocok digunakan dalam kondisi kualitas air jelek atau suplai air terbatas karena akan memperburuk kualitas air. “Dengan kualitas air yang jelek, tipikal amoniaknya tinggi, gunakan pakan protein 30% atau 28%,” saran Sihol.

Ari pun menganjurkan pembudidaya untuk melakukan manajemen pakan yang baik, khususnya pada penggunaan pakan tenggelam. Sebab, FCR dan peluang hidup (Survival Rate, SR) dipengaruhi manajemen pakan. Misalnya pakan teng gelam diberikan sekaligus banyak, tidak bertahap, menyebabkan kualitas ling kungan memburuk. “Lele akan mati sebagian dan nggak jadi daging. Pakan sudah ter lanjur dimakan tapi nggak ada hasil,” tandasnya.