Melebarkan Jejaring Budidaya Si Bongkok

Melebarkan Jejaring Budidaya Si Bongkok

Pasar udang yang masih menganga dan harga yang stabil tinggi membuat euforia budidaya “si bongkok” masih terasa sampai sekarang. Budidaya udang pun semakin meluas. Hal ini terlihat dari cukup banyaknya area ekspansi lahan tambak, seperti di Bengkulu, Lampung, Jabar, Banten, Jatim, hingga NTB.

Bengkulu dan Lampung

Kota Bintuhan, Kab. Kaur, Bengkulu menjadi sentra baru budidaya udang sejak dua tahun belakangan. Umumnya pembudidaya yang melakukan ekspansi ke Pantai Barat Sumatera itu berasal dari Lampung dan Medan, Sumut. Menurut Agusri Syarif, Ketua Ikatan Petambak Pan tai Barat Sumatera (IPPBS), wilayah itu menjadi incaran kawasan pengembangan budidaya udang karena melihat keberhasilan budidaya udang superintensif di Kab. Pesisir Barat, Lampung yang loka sinya di sebelah selatan Bintuhan. Selain air lautnya belum tercemar, saat itu harga lahan lebih murah dan tersedia hamparan seluas puluhan hektar. Jadi, memungkinkan petambak membangun areal pertambakan terpadu dalam satu kawasan.

Agusri memperkirakan potensi lahan di Kaur yang memenuhi syarat menjadi areal tambak mencapai 500 ha. “Dari angka itu baru 60 ha yang sudah diba ngun konstruksi tambak,” ujarnya kepada AGRINA baru-baru ini. Sementara, potensi kawasan tambak di Pesisir Barat, Lampung lebih luar biasa lagi, mencapai 2.000- an ha. Perintis tambak udang superintensif di Pesisir Barat dan Kaur ini menjelaskan, sekitar 50 ha tambak sudah beroperasi di pantai barat Kab. Pesisir Barat yang menghadap langsung ke Samudra Indonesia.

Jatim hingga NTB

Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) juga mengalami ekspansi tambak. “Sebenarnya bukan ditambah, cuma petakannya sudah ada dan digalakkan ulang. Dulu pernah ada petakan, lama vakum, terus sekarang dikerjakan lagi,” jelas Ersan, Manager Area Jatim bagian Timur, Bali, dan NTB PT Suri Tani Pemuka, produsen sarana tambak. Petakan itu awalnya digunakan untuk tambak tradisional dan semi intensif lantas diubah menjadi tambak intensif. “Awalnya tebar cuma 30-40 ekor/m2 . Rata-rata padat tebar saat ini kurang lebih 100-200 ekor/m2 . Produktivi tasnya kisaran 20-40 ton/ha,” imbuhnya. Tambak udang di Sumbawa membentang dari pesisir utara sampai selatan, mulai dari Kep. Bima, Sape, meng arah ke pelabuhan Poto Tano. Se dangkan tambak di Lombok itu me manjang dari Lombok Timur, seperti Obel-Obel, Belanting, Sambelia, menuju ke utara. Sementara, ekspansi tambak di Jatim dan Bali juga menggeliat.

Menurut Herman Wibisono, Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Sumbawa, ekspansi tambak di Sumbawa mulai berlangsung dalam setahun terakhir. “Ada sebagian (tambak) yang mangkrak tapi belakang an mulai aktif lagi, ada yang ganti investor. Inves tor banyak juga dari Jawa. Mungkin di Jawa lebih sulit maka banyak yang beralih ke sini,” katanya sambil menjelaskan tambahan tambak yang beroperasi sekitar 245-300 ha. Produksi udang Sumbawa pada 2016, sambung Herman, sebesar 4.000 ton. Jumlah ini turun dari produksi tahunan rata-rata sebanyak 7.000-8.000 ton pa da 2011 hingga 2014. Pada 2015 agak menurun sekitar 4.000 ton karena merebak White Feces Disease (penyakit berak putih, WFD). Jika budidaya udang tahun ini berhasil, ia optimistis produksi bisa kembali ke angka 7.000-8.000 ton/tahun.